684274198_188c1861d1

Breathtaking… mungkin kata yang tepat untuk menggambarkan keindahan interior masjid Sultan Ahmed. Mesjid ini terletak di Istanbul, Turki. Asha Gill, pembawa acara Lonely Planet Six Degree di Discovery Channel berkomentar spontan “Thisis insanely beautiful”, ketika dalam salahsatu episode acara itu ia berkunjung ke dalam masjid ini. Terdapat pilar-pilar marmer dan lebih dari 200 jendela kaca patri dengan berbagai desain yang memancarkan cahaya dari luar dengan dibantu chandeliers. Dalam chandeliers diletakkan telur burung unta untuk mencegah laba-laba membuat sarang di situ. Dekorasi lainnya adalah kaligrafi ayat-ayat Al Qur’an yang sebagian besar dibuat oleh Seyyid Kasim Gubari, salah satu kaligrafer terbaik pada masa itu.

Elemen penting dalam masjid ini adalah mihrab yang terbuat dari marmer yang dipahat dengan hiasan stalaktit dan panel incritive dobel di atasnya. Tembok disekitarnya dipenuhi dengan keramik. Masjid ini didesain agar dalam kondisi yang paling penuh sekalipun, semua yang ada di masjid tetap dapat melihat dan mendengar Imam.

Masjid Sultan Ahmed dibangun tahun 1609 sampai 1616, pada masa pemerintahan Sultan Ahmed I pada masa kerajaaan Ottoman. Perancang masjid ini adalah arsitek kerajaan Sedefhar Mehmet Aga yang merupakan murid dari arsitek terkenal Sinan. Orang Turki menyebut masjid ini sebagai Sultan Amed Camii [baca jamii, sebutan untuk masjid besar].

Bagian luar masjid terbentang halaman luas yang dikelilingi tembok serta bangunan kecil berbentuk lingkaran beserta beberapa pancuran, tempat berwudhu. Sayangnya tak ada pemisah antara tempat wudhu lelaki dan wanita. Semua dipersilahkan berwudhu di bangunan kecil yang cantik tersebut.

Masjid ini adalah satu dari dua buah masjid di Turki yang mempunyai enam menara, yang satu lagi berada di Adana. Kabarnya, akibat jumlah menara yang sama dengan Masjidil Haram di Mekkah saat itu, Sultan Ahmad mendapat kritikan tajam sehingga akhirnya beliau menyumbangkan biaya pembuatan menara ketujuh untuk Masjidil Haram. Yang menarik, sebuah rantai besi yang berat dipasang di atas pintu gerbang masjid sebelah barat. Di masa lalu, hanya Sultan yang boleh memasuki halaman masjid dengan mengendarai kuda, dan rantai ini dipasang agar Sultan menundukkan kepalanya saat melintas masuk agar tidak terantuk rantai tersebut. Ini dimaksudkan sebagai simbol kerendahan hati penguasa di hadapan kekuasaan Ilahi.

Selain pemandangan yang indah, Istanbul memang dipenuhi bangunan cantik bersejarah. Tidak jauh dari masjid biru, terdapat museum Aya Sofia. Selain terkenal dengan keindahan arsitekturnya, Aya Sofia sangat unik karena sejarahnya, yaitu pertama dibangun sebagai katedral [pada masa Konstantinopel], lalu diubah menjadi masjid selama 500 tahun dan sejak pemerintahan sekuler Republik Turki menjadi museum sampai saat ini. Belum lagi istana Topkapi yang menyimpan beberapa peninggalan Rasulullah.

Profile Masjid Biru

Masjid Sultan Ahmed atau disebut juga “Blue Mosque” karena interiornya yang didominasi dengan warna biru didirikan tahun 1609 sampai 1616 atas perintah Sultan Ahmed, masa pemerintahan Ottoman yang berlangsung dari tahun 1453 sampai 1923. Masjid yang indah ini terletak di Istambul – Turki dekat selat Bhosporus.

Kubah masjid berdiameter 33m dan tinggi pada titik tengah sekitar 43m, dilengkapi dengan 6 menara disekeliling Masjid.

Hiasan dalam masjid sangat mempesonadan dihiasi lebih dari 20000 keramik yang dibuat dengan tangan di lantai dasar, lantai atas dihiasi lebih dari 200 jendela kaca yang indah untuk cahaya dari luar serta dihiasi ayat-ayat suci Al Quran yang kebanyak dibuat oleh Syech Kasim Gubari, Kaligrafi terkenal pada jaman itu.

Tips berkunjung ke Mesjid Biru, Turki

  • Usahakan untuk mengunjungi masjid di pagi hari, saat belum banyak orang yang datang sehingga tidak perlu menunggu dalam antrian untuk masuk masjid.
  • Masjid akan ditutup untuk umum pada saat-saat waktu shalat, lima kali sehari, masing-masing sepanjang 90 menit.
  • Berpakaian sopan dan tertutup. Meski begitu, bagi yang berpakaian terbuka disediakan penutup oleh pengurus masjid.
  • Membawa tas/plastik untuk membawa alas kaki yang harus dibuka ketika memasuki masjid [pengurus masjid juga menyediakan tas plastik].
Advertisements